LOGIKA KAPITALIS


Jagad berita nasional kembali ramai. Dikabarkan beragam media mainstream, bahwa Freeport McMoran (FCX) legowo melepas 51% saham nya atas PT. Freeport Indonesia (PTFI). Dikabarkan pula, pemerintah 'katanya' berhasil memiliki saham mayoritas atasnya, tak tanggung-tanggung 51%. Pemerintah melalui PT Indonesia Asahan Alumunium atau Inalum (Persero) selaku induk holding BUMN bidang pertambangan melakukan pembelian saham itu.

Riuh-rendah asa 'yang katanya' kemenangan atas 'penjajahan' selama lebih dari puluhan tahun benar-benar membuncah. Walau beberapa pakar menilai media mainstream gagap dalam pemberitaan, memaksa kelahiran suatu berita berpasal 'asal bapak senang'.

Terlebih, hal ini diperparah dengan kondisi Bumi Cendrawasih yang selama ini terasingkan ditengah gemerlap aktivitas penambangan yg dikabarkan merupakan salah satu tempat yang menyimpan cadangan emas terbesar di Dunia. Singkat kata, ucapan 'keberhasilan'--yang sejatinya gagap-- menyemai wajah berita nasional.

Semangat serta asa itu boleh bahkan harus lah kita miliki--walau tidak prematur seperti saat ini. Bagaimana tidak? Puluhan tahun emas diangkut dan perjual belikan dari tanah yang kita miliki, namun selama itu pula, rasanya 'mencicipi' nya saja tidak.

Kekayaan alam itu malah lebih sering memunculkan konflik akibat ketidakadilan sosial-ekonomi di Bumi Cendrawasih. Bagaimana mungkin? Teknologi penambangan kelas wahid, keamanan kerja tingkat tinggi itu terasa kontras berdampingan dengan masyarakat tak berbaju dan bahkan bisa jadi tak mengenal apa itu baju dan segala rupa hal-hal mendasar lain nya.

Bidang kesehatan pun masih menjadi persoalan utama dan urgent disana. Bahkan, sambil berlalu seorang kawan saya pernah menyampaikan bahwa teman dari kakak nya, pernah ditombak oleh warga sekitar karena tidak bisa menyembuhkan seorang warga disana bersebab kurangnya sdm maupun fasilitas kesehatan. Logika macam apa yang bisa menginsafi ketimpangan separah ini?

Benar bahwa, Bumi Cendrawasih wajib kita rebut kembali. Namun, dalam logika kapitalis rasanya yang terjadi bukan lah pembebasan dan kemerdekaan, justru hanya sekedar perpindahan tangan pemeras. Alih-alih menginginkan kebebasan, yg terjadi malah sebaliknya.

Kitapun wajib ingat, sejarah selalu mengajarkan, bahwa suatu kejadian adalah suatu rangkaian periodik. Dulu terjadi, kemudian hari pun dapat terjadi, walau pion dan pemain jelas berbeda, namun tetap dalam sebuah lokus yang sama.

Dulu, VOC pernah datang ke Bumi Nusantara. Sebuah perusahaan swasta asal Belanda yg berfokus pada pencarian rempah-rempah yg konon terbaik di Dunia. Tak berselang lama, logika kapitalis pun bermain. Mereka menjelma menjadi segerombolan perompak yang memaksa pemimpin-pemimpin setempat untuk mau berjual-beli.

Tidak hanya itu, pun bahkan mereka melakukan monopoli atas apa yang bahkan tidak mereka miliki. Bila melawan? Pasukan perusahaan siap memberangus dan menerjang siapa saja yang menghalangi langkah dan jalan mereka!

Salah satu daerah penghasih rempah-rempah terbaik Dunia adalah Kepulauan Maluku, dimana terdapat Pulau Run disana. Disampaikan oleh Giles Milton dalam buku nya, "Pulau Run". Ada sebuah sejarah menarik lagi menyesakkan dada, perihal Pulau Run ini. Pelajaran berharga yang memperlihatkan wajah penjajah. 

Pulau Run adalah sebuah pulau kecil yang terpencil, sepi, dan terabaikan di tengah ribuan pulau-pulau Indonesia lainnya. Pada awal abad ke-17 M, panen rempah-rempah mengubah Pulau Run menjelma menjadi pulau yang paling berharga dari kepulauan rempah-rempah lainnya di Nusantara.

Pala, biji tumbuhan itu, adalah kemewahan paling diidamkan di Eropa abad ke-17, satu jenis rempah yang memiliki khasiat pengobatan begitu hebat sehingga orang-orang akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk memperolehnya, Ungkap Milton.

Bersebab itulah, Hal ini mendorong perebutan sengit serta berdarah-darah antara VOC dan sekelompok tentara Inggris yang dipimpin oleh seorang kapten bernama, Nathaniel Courthope.

Pertarungan kepentingan antara Belanda dan Inggris inilah yg menghasilkan sejarah spektakuler yg mungkin banyak orang lupa. Hasil nya adalah Traktat Breda. Pada 31 Juli 1667 ditekanlah kesepakatan itu di Kota Breda, Belanda. Perjanjian ini menyepakati penyerahan Pulau New Netherland--kelak dikenal dengan Manhattan--di Amerika Utara dari Belanda kepada Inggris dan penyerahan Pulau Run dari Inggris kepada Belanda.

Inggris menyerahkan Pulau Run ke Belanda, dan sebagai imbalannya Inggris diberi sebuah pulau lain, yakni New Netherland yg ini hari dikenal dengan Manhattan, salah satu bagian dari kota bisnis tersibuk di Dunia, New York.

Menarik nya, baik Belanda maupun Inggris adalah bukan pemilik tanah yang mereka tukarkan, Manhattan di Amerika Utara dan Pulau Run di Nusantara. Perjanjian itu terjadi antar penjajah. Dalam logika kapitalis sungguh tak ada kebaikan untuk lawan bahkan rakyat jajahan, yang ada hanya pencarian keuntungan-keuntungan lain yang lebih besar secara kapital.

Sungguh itu jualah yang harus kita perhatikan dengan seksama atas 'akrobat' kesepakatan Freeport McMoran (FCX) terhadap kepemilikan nya atas saham PT. Freeport Indonesia (PTFI).

Selain itu patut diperhatikan jua, pembelian saham mayoritas oleh PT. Inalum tersebut disinyalir didapat dari suntikan dana beberapa bank luar negeri, artinya dana tuk membawa kembali mayoritas saham tersebut adalah hutang bukan milik pemerintah.

Jangan sampai Bumi Cendrawasih hanya berpindah tangan pemeras dari Freeport McMoran ke tangan-tangan pemeras lain nya. Kawal terus, jangan sampai lengah!

*Penulis : Muh Imadudin Siddiq

Sumber :
1. Giles Milton (2015). Pulau Run : Magnet Rempah-Rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Penerbit Alvabet.
2. Foto : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:AMH-4740-NA_Map_of_Poeloe_Run.jpg

You Might Also Like

0 comments