POLITIK


Rasanya pembahasan tentang apa itu arti aktivitas politik masih sukar dipahami beberapa komponen masyarakat, terlebih tuk mereka yang merasa 'suci' karena memilih tidak 'menceburkan' diri dalam dunia perpolitikan. Saya rasa, bukan mereka tidak 'menceburkan' diri, tapi lebih kepada ketidakpahaman mereka apa aktivitas politik itu. 

Dalam bahasa yang menarik, Pramoedya menyampaikan pesan nya tentang arti politik dalam Novel Tetralogi Buru-nya, "Rumah Kaca". Dituturkan oleh Tuan Raden Mas Mingke saat diintrogasi pihak kepolisian Gubermen Hindia Belanda, bersebab aktivitas jurnalisme yang jelas mengancam pemerintah kolonial.

"Tak boleh mencampuri politik dan organisasi !!", umpat seorang polisi kepada Mingke. 

Tak berselang lama, Mingke pun menyatakan,
"Apakah itu Tuan-tuan artikan aku harus tinggal seorang diri di puncak gunung? Semua berpautan dengan politik! Semua berjalan dengan organisasi. Apakah Tuan-tuan kira petani buta huruf yang hanya dapat mencangkul itu tidak mencampuri politik? Begitu ia menyerahkan sebagian penghasilnya yang kecil itu kepada pemerintahan desa sebagai pajak, dia sudah berpolitik, karena dia membenarkan dan mengakui kekuasaan Gubermen. Atau, apakah yang Tuan-tuan maksudkan dengan politik itu semua saja yang tidak menyenangkan Gubermen, sedang yang menyenangkan bukan politik? Dan siapa kiranya orang yang dapat membebaskan diri dari organisasi? Begitu kelompok orang lebih dari dua pribadi, di situ organisasi itu timbul. Makin banyak jumlah orang itu makin pelik dan tinggi organisasinya. Atau adakah Tuan-tuan punya maksud lain dengan politik dan organisasi?"

Sederhana. Sangatlah sederhana, apa itu aktivitas politik. Singkat kata, menolak berpolitik artinya menolak untuk hidup bermasyarakat. Pertanyaan besarnya, "apakah kita mampu tuk tidak bermasyarakat ??!!" [].  

*Penulis : Muh Imadudin Siddiq

***
Sumber foto : https://www(dot)newyorker(dot)com/science/maria-konnikova/politics-and-personality-most-of-what-you-read-is-malarkey

You Might Also Like

0 comments